(Oktober 1965) – Apa yang Terjadi di Indonesia?

  • Surat Ben Anderson dan Ruth McVey

Bahan ini adalah judul surat Prof.Dr. Benedict Anderson dan Prof. Dr. Ruth McVey, tertuju kepada Editor Penerbit New York Review of Books. Surat tsb ditulis pada tanggal 9 Februari 1978. Seperti karya-karya analitis dan studi politik Ben Anderson mengenai Indonesia yang banyak ditulis dan diwawancarainya, meskipun itu ditulis atau dikatakan di beberapa waktu yang lalu, namun, sebagian besar masih relevan. 

Ben melakukan studi dan analisanya mengenai politik Indonesia, secara luas dan mendalam, independen dan obyektif. Tulisannya kali ini yang saya publikasikan kembali secara berseri, ditulis bersama cendekiawan Barat lainnya, Ruth McVey, sebagai respons terhadap tulisan cendekiawan Francis Galbraith [1913-1986], berjudul “APA YANG TERJADI di INDONESIA? Suatu Pertukarfikiran.”

Studi analitis Ben dan Ruth mengkonfrontasikan tuduhan Galbraith bahwa kaum Komunis, PKI, beralih ke penggunaan cara kekerasan dalam suatu kup,– dengan kenyataan sebagaimana yang dikemukakan oleh studi dan analisis CIA. Ben dan Ruth juga mengemukakan bahwa hasil studi CIA menunjukkan bahwa fakta dan data ketika itu PKI justru menjauhkan diri dari tindakan kekerasan, dan tak pernah menantang tentara. Dikemukakan juga oleh Ben dan Ruth bahwa tuduhan tindakan kekerasan yang dilakukan orang-orang Komunis/PKI sekitar aksi-aksi di pedesaan, — sesungguhnya itu adalah suatu gerakan untuk melaksanakan suatu program land-reform yang sudah lima tahun sebelumya diundangkan.

Selanjutnya tulisan Ben dan Ruth menggugat klaim pimpinan tentara yang menuduh PKI melakukan kup, karena kenyataannya ialah, apa yang dinamakan kup itu, bukanlah suatu gerakan untuk menggulingkan Sukarno atau pemerintahan Indonesia, tetapi suatu pembersihan terhadap dalam pimpinan Angkatan Darat dengan tujuan untuk membawa perubahan tertentu dalam komposisi kabinet.

Baiklah dimulai saja dengan menterjemahkan tulisan Ben Anderson dan Ruth McVery, sbb:

” Surat Ben Anderson dan Ruth McVey

(1)  APA YANG TERJADI di INDONESIA?”
Oleh Benedict R. Anderson, Ruth McVey.

Sebagai respons terhadap APA YANG TERJADI DI INDONESIA?

Suatu Pertukarfikiran

(9 Februari 1978).

Kepada Redaksi:

Selaku “Cendekiawan Cornell” terhadap studi yag mereka lakukan mengenai kup 1 Oktober, 1965 di Indonesia, Francis Galbraith – (1913-1986)- menyinggung dalam serangannya terhadap kritik Amnesty International mengenai pelanggaran HAM yang menyeluruh di negeri itu (lihat suratnya di Timbangan Buku The New York, 9 Februari, 1978) , kami menganggap bahwa catatan dia itu patut sedikit dikomentari.

Pandangan tuan Galbraith mengenai hal ihwal sederhana: “kup” tahun 1965, di mana 6 jendral dibunuh, adalah suatu percobaan perebutan kekuasaan komunis yang ceroboh. Ia beranggapan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) telah melakukan “berkali-kali percobaan berdarah” untuk menggulingkan pemerintahan di Indonesia, yaitu, dalam tahun 1926, 1948 dan 1965- tetapi mengabai-kan menyebut bahwa yang pertama itu tadi adalah suatu pemberontakan terhadap kekuasaan kolonial Belanda!

Kegemaran Partai pada kekerasan, dikatakannya, didemonstrasi-kan sebelum terjadinya kup oleh kenyataan bahwa “ia menstimulir konflik di pedesaan Djawa Timur dengan suatu program penyitaan tanah yang dilakukan secara paksa oleh para pengikut PKI”. Pembaca yang tak waspada sebaiknya dinasihatkan bahwa “program” ini, yang dilaksanakan dalam tahun 1964 adalah suatu perocbaan untuk memperoleh kerelaan (compliance) dengan ketentuan-ketentuan land-reform dan bagi-hasil, yang sudah diundangkan lima tahun sebelumnya. Banyak dari kekerasan sesungguh-nya dalam tahun 1964 adalah resultat dari ulahnya tuantanah untuk secara (ilegal) menarik sewa tanah yang biasa tinggi waktu itu dalam menghadapi perlawanan kaum tani yang meningkat.

Sesudah kup, tulis Tuan Galbraith, “PKI memimpin percobaan tinkgat-dua untuk menguasai Indone-sia. Mereka membunuh siapa saja yang menentang mereka; kaum non-Komunis memukul balik”.

Yang terjadi sesungguhnya bukanlah itu, bila seandainya kita percaya pada versi sejarah kup menurut CIA, yang oleh Tuan Galbraith direkomendasikan sebagai sesuatu yang “memberikan penjelasan yang baik sekali mengenai apa yang terjadi dan mengapa”. (Catatan Ben dan Ruth: CIA, Directorate of Intelligence, Indonesia – 1965: The Coup That Backfired, <1968> cukup aneh, satu-satunya studi CIA mengenai politik Indonesia yang pernah dipublikasikan atas inisiatif badan itu (CIA) sendiri). Karena meskipun adanya pandangan tinggi Tuan Galbraith terhadap usaha historiografi CIA, tampak-nya aneh, ia seperti tidak mengetahui pendapat-pendapat (CIA) itu.

Kenyataannya, studi CIA itu sangat spesifik mengenai ketiadaan kekerasan yang dipicu oleh kaum Komunis. Dalam komentarnya mengenai kegiatan PKI ketua Aidit di Jawa Tengah segera setelah terjadi kup, CIA mencatat bahwa ia (Aidit) memperingatkan orang-orang bawahannya:

Apapun yan terjadi tidak mengizinkan PKI diprovokasi melakukan tindakan kekerasan demikian dinyatakannya kepada orang-orang yang berkumpul mendengarkannya bahwa tidak boleh ada demonstrasi mendukung kup. Suatu kehe-ningan yang tegang dan siaga terasa dimana-mana, tetapi tidak ada tanda-tanda kegiatan PKI dimanapun (Halaman 77-79)

Di Sumatra, demikian laporan CIA menyatakan, kaum komunis “tidak pernah menantang tentara dalam kekerasan besenjata apapun yang ternyata adalah penuturan tentang PKI menyerah pada tentara di seluruh Indonesia sesudah kup”. (halaman 63).

Kenyataannya, berlawanan dengan klaim Tuan Galbraith, studi CIA itu berulang-kali, secara tidak berhati-hati mengungkap tentang ketidak-mungkinan (the implausibilities) terjadinya hal itu dalam versi resmi tentang kup dalam versi pemerintah Suharto. Satu hal, terdapat problim mengenai sumber-sumber. Penguasa militer Indonesia telah menyebarkan ribuan halaman “bahan-bahan” mengenai kup, sedikit sekali yang bisa dipercaya dan tidak ada yang tanpa purbasangka. Studi CIA itu semua-nya menggunakan dan menambahkan bahan koleksi yang dubius ini.

Umpamanya, bahan itu mengutip “statement-statement” oleh para pemimpin tinggi komunis Nyono dan Sakirman sebgai bukti bahwa rapat-rapat Politbiro PKI yang dikatakan memutuskan untuk melancarkan kup itu (halaman 225-227). Bahwa ‘pernyataan’ Nyono itu bertentangan sekali dengan kenyataan yang jelas-jelas tentang gerak-gerik Aidit, dan bahwa “pernyataan” -nya itu bersumber dari suatu “pengakuan”, begitu tidak masuk akalnya sehingga itu harus digantikan dalam jangka waktu beberapa jam saja, oleh suatu versi yang sudah “disempurnakan” dibiarkan saja berlalu tanpa disebut-sebut lagi.

(Catatan Ben dan Ruth: Mengenai hal ini, lihat A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indoneisia  Ithaca, Cornel Modern Indonesia Project, 1971, halaman 157-162).

Studi itu mengemukakan bahwa “statement” Sakirman dinyatakan di pengadilan; bila betul begitu, maka itu dilakukan secara posthumus, karena penguasa militer Indonesia menyatakan bahwa ia (Sakirman) sudah ditembak mati “ketika mencoba untuk melarikan diri” segera sesudah ia ditangkap.

Seperti halnya rezim Suhartro, studi CIA itu gagal untuk menghasilkan suatu penjelasan yang mungkin terjadi mengenai tujuan-tujuan para pencetus kup yang dimaksudkan itu; penjelasannya memang secara tak disadari meruntuhkan kasus anti-komunis yang menurut imajinasinya sedang disusunnya itu.

Ambillah misalnya soal mengapa PKI ujung-ujungnya kok menempuh kekerasan. Dalam situasi dimana Indonesia sedang meluncur lancar kearah kiri, dengan Sukarno dan PKI dalam posisi memim-pin, saatnya tampak dekat sekali dimana kaum Komunis akan mengambil alih negeri – bisa terjadi dengan meninggalnya Sukarno, atau bahkan sebelum itu. Kebanyakan peninjau di Barat mengakui ini.

Orang-orang Indonesia tampaknya pasrah. Tentu saja, PKI punya alasan kuat mempercayainya.

Pada tanggal 12 Oktober 1964 [Aidit]menjawab serentetam pertanyaan mengenai PKI dan revolusi Indonesia dengan suatu klaim yang tak pernah terjadi sebelumnya bahwa “Diantara partai-partai Komunis di dunia PKI adalah satu-satunya partai yang paling punya otoritas untuk bicara mengenai ‘peralihan secara damai’ ke sosialisme, karena PKI ambil bagian dalam pemerintahan baik di pusat maupun lokal dan punya potensi nyata untuk melaksanakan politiknya.” [Halaman 168-170].

Ataukah suatu faktor yang tak terduga -seperti keadaan sakitnya presiden karisma-tik Indonesia, Sukarno, penyokong PKI- mendorong para pemimpin Komunis untuk melakukan komplot kup?

Laporan CIA mengedepankan kemung-kinan ini kemudian meninggalkannya mengingat keadaan segar-bugar Sukarno dan kenyataan bahwa “tidaklah mungkin bahwa partai(PKI) akan bergerak karena asumsi bahwa Sukarno bagaimanapun akan mati”. (halaman 260)

Suatu alasan kedua yang mungkin bagi PKI untuk beralih ke kekerasan ialah, bahwa partai khawatir suatu perebutan kekuasaan oleh pimpinan tentara, oponen utama PKI. Para perwira muda yang akutil membunuh para jendral, bukankah, mengumumkan bahwa mereka “melindungi” Sukarno dari suatu kup yang akan segera dilancarkan oleh Dewan Jendral yang diukung oleh CIA. Tetapi bila suatu kup tentara akan segera terjadi, mengapa Aidit – yang secara politik dekat dengan Sukarno, dan selalu berhubungan dekat dengannya (halaman 234-5) tidak memberikan sinyal-bahaya kepada Presiden mengenai bahaya yang mengancam mereka berdua, terbanding mengambil tindakan sendiri? Dan bila Sukarno tidak melibatkan dirinya dalam kup (studi CIA berspekulasi bahwa mungkin ia terlibat), mengapa ia bertindak demikian, dalam suatu cara yang tidak menggunakan apapaun dari otoritasnya yang legitim dalam jabatannya, atau dukungan popula-ritasnya yang begitu besar dan yang tak bisa tidak mempersatukan opini dalam tentara menentangnya?

Meskipun adanya teka-teki (enigma) ini, studi CIA memastikan bahwa dalam bulan November 1964 PKI mendirikan suatu organisasi rahasia untuk menyusup dan melakukan subversi terhadap kekuatan bersenjata Indonesia.

Namanya Biro Khusus, katanya dikepalai oleh seseorang bernama Sjam. Biro Khusus ini memang amat rahasia: Tampaknya, hanya sejumlah kecil orang saja di Politbiro yang tahu tentang adanya Biro Khusus ini; samasekali tidak jelas apakah ada orang lain kecuali Aidit yang tahu tentang identitas orang yang mengepalai organisasi tsb. [Halaman 265-266, dan cf halaman 101].

Karena Aidit sudah mati, otoritas CIA mengenai adanya Biro ini hanyalah Sjam sendiri – yang namanya barangkali tidak tepat mengucapkannya, Sham. Untung, dia ternyata adalah “saksi yang paling koperatif”.

“Begitu Tentara bisa membikin Sjam bicara, tampaknya ia juga ingin sekali menceriterakan segala sesuatu yang ia ketahui tentang kup itu – hampir-hampir dari perasaan bangga, tampaknya” [halaman 76 dan 76a, note].

Barangkali sikapnya yang suka ngomong itu ditimbulkan oleh pengalaman 10 tahun sebagai informan profesional untuk intel militer tentara, yang melaporkan tindak-tanduk PKI dan parpol-parpol lainnya (halaman 107).

CIA mengambil fakta-fakta ini untuk menunjukkan begitu meng-gemparkan-nya penetetrasi PKI ke dalam aparat militer — tetapi dengan sendirinya itu bukan satu-satunya cara hal itu bisa diartikan.

Apa tujuan manipulasi subversif Biro Khusus terhadap perwira-perwira militer? Mengejutkan sekali, tampaknya, bukan untuk merebut kekuasaan: Karena sekarang jelas bahwa kup Indonesia itu bukanlah suatu tindakan untuk menggulingkan Sukarno dan/atau mendirikan pemerintah Indonesia [sic!].

Hakikatnya , tindakan itu adalah suatu pembersihan terhadap pimpinan Angkatan Darat, yang dimaksudkan untuk terjadinya suatu perubahan tertentu dalam komposisi kabinet. Dalam pengertian ini, adalah lebih tepat untuk menyatakannya sebagai suatu pembersihan, dan bukan suatu kup. [N.p.; dari kata pengantar oleh John Kerry King, Kepala DDI Special. Research Staff; dan cf. halaman 29-30].

Tinggalkan Balasan